Wabah pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir, memaksa banyak sekolah atau madrasah dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) harus menggunakan sistem daring atau online, bahkan hingga pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) yang dijadikan salah satu prasyarat untuk kenaikan kelas.

Namun langkah berbeda dilakukan oleh Madarasah Ibtidaiyah (MI) Miftahul Ulum ini lebih memilih melakukan pelaksanaan PAT-nya dengan langsung mengirimkan soal ke rumah siswanya secara langsung. Para guru dengan ikhlas mendatangi satu persatu rumah siswanya untuk mengantar soal PAT. Hal itu dilakukan karena sebagian siswa belum memiliki Smartphone.

“PAT Tahun Pelajaran 2019/2020 ini akan dilaksanakan mulai tanggal 27 Juni sampai 4 Juli 2020”. Tutur Abdul Muzemmil selaku ketua Panitia PAT

Kepala MI Miftahul Ulum Banyuputih Kidul Nurhafi, S.Pd. mengungkapkan, para guru dengan ikhlas mengantarkan soal PAT ke rumah siswa, karena mayoritas dari mereka masih banyak yang tidak memiliki smartphone untuk bisa mengaplikasikan program belajar dari rumah sesuai arahan pemerintah, terlebih saat ini jadwalnya pelaksanaan PAT untuk kenaikan kelas.

“Soal PAT diantar guru ke rumah masing-masing siswa,” tandas Nufhafi.

Lebih lanjut Nurhafi menjelaskan, memang sebelumnya MI nya sudah menerapkan dengan sistem daring, namun setelah di evaluasi KBM tersebut hasilnya tidak maksimal, dikarenakan masih banyak para siswa yang belum memiliki smartphone.

“Dengan guru mengantarkan soal PAT langsung kerumah masing-masing siswa itu, berharap hasil dari kinerja siswa bisa lebih baik dan maksimal,” harapnya.

Nadiyyatul Husna salah satu siswi kelas satu mengaku senang saat dapat mengerjakan soal PAT berbasis paper/tulis ini, karena bisa mengerjakan secara konsentrasi dan bisa belajar dengan lebih mudah.

“Senang sekali bisa PAT ini karena sudah lama gak sekolah. Nadiyya juga belum bisa mengoperasikan smarphone,” katanya.

Di sisi lain, salah satu wali murid, Ermi mengungkapkan sebagai orang tua lebih senang jika anaknya bisa mengerjakan soal PAT di lembar kertas/paper dari pada mengerjakan soal di handphone.

Lanjut Ermi, dengan basis paper ini anaknya bisa lebih konsentrasi dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh sekolah. “Kalau melaui smartphone kan saya juga khawatir kalau nggak ada pendampingan, terlebih lagi Smarphone juga saya untuk bekerja,” terangnya.

Seperti diketahui, sejak pandemi mewabah pemerintah menerapkan program belajar di rumah dengan sistem daring, namun sistem tersebut dirasa kurang maksimal khususnya di wilayah pedesaan dan dinilai kurang efektif. Pasalnya di daerah pedesaan itu, banyak siswa yang tidak memiliki handphone untuk melakukan belajar secara online.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *